Aku Merindukanmu.

Mungkin post kali ini bakalan jadi postingan pertama yang dimana saya – sebagai penulis akan menuangkannya dalam bahasa indonesia. Sesekali mungkin boleh sedikit melupakan dunia internasional (hehe). Sebenernya sih punya hidden agenda – biar yang baca mau ngontak dan cari topik (eh salah – kan udah putus haha). Tapi, ya sudahlah, biarkan sang pujangga sejenak meluapkan rasa rindunya pada seseorang.

Kalau saya tanya pada audiens yang membaca tulisan saya ini, kira-kira apa yang akan kalian jawab saat saya bertanya, “Apasih rasanya merindukan seseorang yang kalian sendiri – belum pernah saling bertemu?”

Mungkin bingung ya, menjawabnya. Nah, itu pula yang terjadi dengan saya.

Antara malu nggak malu, sih mengakui bahwa saya sendiri terjebak dalam cinta dan hubungan yang bisa dibilang tidak lumrah, tapi, he is one of the best person I know – dan saya juga tidak mampu untuk menolak atau melewatkannya. Saya rasa terkadang memang cinta itu di luar logika.

Bagiku, merindukan dia itu seperti…

Menunggu hangatnya matahari di kala musim dingin yang tak berujung. 

Ku merasa dingin, merasa lemah tanpanya, dan hanya disaat ia ada aku mampu lagi untuk melanjutkan hariku.

Di sisi lain aku merasa tidak enak juga jika dia harus membagi waktunya antara aktivitas nya yang amat sangat padat dan diriku. Aku sangat berharap bisa berperan seakan-akan aku tidak apa-apa jika ia tiada di sisiku. Tapi, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku betapa aku sangat mencintainya – betapa aku membutuhkannya dan selalu menginginkan dirinya ada untukku – bersama ku.

Di setiap doa aku, aku berhadap pada Tuhan bahwa aku punya kesempatan dengannya, bahwa suatu hari aku ditakdirkan untuk dapat bertemu dengannya. Melihat wajahnya, menyentuh jemarinya, mendengar setiap detak jantungnya. Aku sangat menyukai matanya. Aku sangat bisa membayangkan bagaimana matanya berbinar saat ia bercerita mengenai ruang angkasa ataupun politik yang memiliki hubungan dengan berbagai partai komunis dan bagaimana komunisme serta aiteisme membentuk pribadinya sekarang. Aku senang sekali saat ia mulai bercerita mengenai kota tempat tinggalnya yang merupakan saksi bisu sejarah dari kerajaan-kerajaan Tamil yang megah dan berjaya pada eranya.

Bagiku, ia sangat berbeda dari lelaki yang pernah aku kenal sebelumnya. Semuanya memang selalu berbeda dengannya. I feel different. It’s always different with you and I like it that way.

Baru saja aku mendapatkan telpon darinya. Walau kami hanya berbicara selama 20 menit karena rupanya ia ada kelas yang harus dihadiri. Ku merasa sangat senang mendengar suaranya. Perasaan bahagia yang aku tidak pernah bisa deskripsikan. Pada  saat yang sama hal ini selalu membuatku bertanya lagi dan merasa malu pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menyakitinya? Bagaimana bisa ia masih mencoba untuk menerima dan memaafkanku setelah tragedi itu? tidak sekalipun ia mencari-cari celah kecil untuk menyindirku atas hal tersebut. Apakah benar ia juga sangat mencintaiku? Diriku yang tidak ada apa-apanya ini?

Aku sangat berharap aku bisa lambat laun merubah perilaku tersebut dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Pribadi yang tidak lagi hancur dan selalu bermasalah dengan keadaan serta masa lalunya. Pribadi yang sadar bahwa I am okay. I’m okay and I am unique in my own way. Sehingga, aku tidak perlu deklarasi dari orang lain yang selalu membuatku feel better.

Sampai sekarang aku masih cinta. Ku masih menginginkan dirinya. Aku masih ingin memperjuangkan yang kita punya. Aku tidak bisa jauh dan aku tidak siap untuk meninggalkan dirinya.

Sayang, aku merindukanmu setiap detik dalam hidupku.

Pegang tangaku, bersama jatuh cinta. Kali kedua pada yang sama. Sama Indahnya.

Advertisements

“When things are less chaotic, we will find ourselves in love again”

No matter how much you love each other, when things are just too much to handle, you reached your breaking points and separation is the only choice you have – the pain is just too much, and you know you can’t handle it.

In the other side of the story this separation was caused by me. I triggered this, and no matter how much I beg for him to come back, it doesn’t work that way.

Love only is not enough to make a long term relationship work out. Now that his trust is broken I have to learn living without him. I never thought this will ever happen to both of us.

I know I messed up. At the same time I still hope that he want to forgive me. He is the only one I love. It will be very hard to move on and start again. I have found my person and I only want him. I just don’t understand myself how can I do this to the person that I really love.

how come this insanity happened.

I cannot stop blaming myself for what happened. Hurting the person I love the most in the whole world is the last thing that I would’ve done. I was completely out of my mind. I’m sorry.

sadly this time, no matter how marry sorry I asked, it won’t work – or bring back the trust that has been broken. I hurt him. I lose him. I broke the one of the crucial thing he guards so much.

People do make mistakes.

Is this one of the mistakes that could be forgiven?  We never know.

Another thing that I could not understand is that, how come he loves me this much. Even after we broke up we still talk like how we used to. Just I guess right now we have to understand that barrier between us and there are important things that needs to be solved.

I never knew that among 1 billion people in this world, there’s this one lovable man, somewhere miles away, could love me with all my flaws and shortcomings. I always told him that he deserve a better person than me. Still I find him choosing to stay with me, be with me day and night and worry about me when I’m sick.

I don’t want to lose him ever.

Since this issue emerged, I decided to seek help from a professional. This issue made me realize that there is something wrong inside me, some kind of damage and past trauma that’s never been solved – accumulated and resulted in an unpleasant behavior. I always thought I could sort this out ever since I studied psychology – but what I did was I tried to erase it and never really make peace with my own self.

By the time of the first session of counselling – I thought it will be just a simple counselling session that might end in 4 or 5 sessions. My psychologist told me that I have to undergo psychotherapy treatment to “heal” myself.  The irony here is that – I was studying about all this things for 4 years and turns out the client is me – myself.

I really hope the psychotherapy could really help me to heal, move on and eventually to accept myself as a whole. He told me he could wait until the sessions are done. Knowing this I really, really feel bad and disgusted for myself.

I cannot believe I did this to him.

At the same time I also told him that I understand no one could wait forever. So, even if someday he realizes that he might love someone else, and that he choose to end this once and for all, at least, I hope,  I could grow and improve more as a person and someday could establish better interpersonal relationships.

No matter how he compares himself to one of my previous relationships, I never love anyone the way I love him. He really – really mean so much to me. Even if the story ends without us in the end. I know I will never forget you and I guess I will love him for a long time.

I’m gonna miss the sound of his sleep, his snore, his laugh. The way he say my name and my middle name. All those tamil lessons that I know I messed up. He is sweet in his own way. If I could do it over, if I could rewind and turn back the time, I’ll do it all over again. I will use the time I have to make us fall in love again.

We both know our own limitations, that’s why we’re strong – now that we, spent sometime apart, leading each other out of the dark, ’cause we both know.

We Both Know – Colbie Caillat.